| Apresiasi Sastra FPBS IKIP PGRI Bali |
| Rektor Baca Puisi, Acri Pakai "Ongkara" |
| MAHASISWA
Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia dan Daerah Bali, FPBS IKIP kembali
menggelar kuliah umum dan apresiasi sastra dengan mendatangi sastrawan
ternama. Kali ini FPBS IKIP mengundang sastrawan Dr. Andrea Acri, NH
Dini dan I Made Jiwa Atmaja, S.U. Yang menarik di acara pembukaan,
Rektor IKIP PGRI Bali, Dr. I Made Suarta, S.H., M.Hum. membacakan puisi
secara sempurna dengan judul "Selamat jalan I Gusti Ngurah Lempad".
Selain juga pembacaan puisi modern oleh Samargantang dan puisi oleh Putu
Budi Eka Yani, musikalisasi puisi oleh Tan Lioe Le dan monolog oleh
Abubakar, dkk. Hadir pada acara itu Ketua YPLP PT IKIP PGRI Bali, Drs.
IGB Arthanegara, S.H., M.Pd. dan Sekretaris Ngurah Oka. Kuliah umum kemarin mengangkat tema "Kebudayaan Bali dan Apresiasi Sastra". Dalam acara itu Dr. Acri memaparkan perspektif etic (barat) versus perspektif emic (lokal). Tulisannya agak mengejutkan, karena di awal makalahnya ditampilkan huruf Ongkara. Ternyata Dr. Acri sudah akrab dengan Ongkara sebagai orang Barat yang suka meneliti Hindu di Bali. Menurut Dekan FPBS IKIP PGRI Bali, Drs. Nengah Arnawa, M.Hum., Andrea Acri adalah ahli bahasa Sansekerta dan Jawa Kuno. Dia seorang kritik teks menekuni bidang ilmu yang langka. Arnawa didampingi Kaprodi Bahasa Indonesia dan Daerah, IA Agung Ekasriadi, S.Pd., M.Hum., mengatakan apresiasi sastra tersebut dalam rangka memberi pemahaman dan pengalaman tentang kebudayaan Bali. Kajian teks, kata Arnawa, memberi nilai akademik dan sosiologik serta nilai-nilai humaniora. Di samping itu, untuk menggairahkan penekun teks kita dalam mengkaji dan menyebarluaskan kajiannya kepada masyarakat. Dengan demikian, kita terhindar dari budaya gugon tuwon di Bali. Untuk itu, dialog dengan sastrawan ini diharapkan meningkatkan nilai akademik di FPBS IKIP PGRI Bali. Sementara Dr. Acri mengatakan, tutur atau tatwa sangat kental di Bali. Agama Hindu yang dikenal dengan sanatana darma harus dikaji dari berbagai perspektif. Agama Hindu di Bali bisa dikaji lewat perspektif tradisi Bali, modern-antropologi, modern historical. Perspektif orang Bali pun masih dipisahkan dengan perspektif tradisi Bali, masa Belanda dan pascamerdeka. NH Dini dalam acara itu memaparkan terkait kreativitas dalam penulisan dan melahirkan budaya menulis. Sementara Jiwa Atmaja soal apresiasi sastra dan penguat imajinasi produktif. NH Dini menegaskan, bahwa yang terpenting dalam membentuk budaya menulis adalah penataan sistematis dari gagasan dan tema yang disampaikan kepada pembaca. Bagi dia, menulis itu mudah jika si pelaku mempunyai kebiasaan mengungkapkan isi pikirannya dalam bentuk tulisan. Saat itulah dia bisa dikatakan memiliki budaya menulis. Dia mengatakan, untuk bisa menulis sesuatu yang baik, kita harus memodali diri dengan pengetahuan. Seperti, sering membaca sejumlah karya tulis dari penulis ternama dan sering berlatih serta mewujudkannya. Di samping itu, sering mendengarkan suara kehidupan di keliling kita juga membantu memperkuat kepekaan jiwa penulis. (ad3) |
blog sti
- http://blogstikampusbali.blogspot.com
- http://gstamdanitasari.blogspot.com
- http://blogikadekandisantika.blogspot.com
- http://blogputuarimbawa508.blogspot.com
- http://blogtudendi.blogspot.com
- http://perempuanpunya.blogspot.com
- http://arinitwoeady.blogspot.com
- http://wertayasa.blogspot.com
- http://blogidasti.blogspot.com
- http://bloganik.blogspot.com
- http://bloggaryss.blogspot.com
- http://blogyunie.blogspot.com
- http://blogeka.blogspot.com
Rabu, 17 Oktober 2012
Bali
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar