Minggu, 28 Oktober 2012

upacara adat di bali


Tradisi Upacara Adat "Potong Gigi" di Bali


Kehidupan masyarakat di Bali memang tidak pernah terlepas dari upacara-upacara keagamaan yang dimulai dari lahir sampai meninggal. Upacara-upacara keagamaan ini dilaksanakan untuk menyeimbangkan kehidupan manusia dengan Tuhan, manusia dengan alam, dan manusia dengan manusia yang dikenal dengan konsep Tri Hita Karana. Dengan adanya keseimbangan tersebut, masyarakat Bali percaya bahwa ketentraman hidup akan terwujud..
Salah satu upacara keagamaan yang menjadi tradisi masyarakat Bali sampai saat ini, yaitu tradisi potong gigi (biasanya orang Bali menyebutnya dengan metatah atau mapandes atau masangih). Tradisi ini wajib dilakukan oleh seluruh masyarakat Hindu di Bali baik itu laki-laki maupun perempuan agar pada saat meninggal dunia, seseorang bisa bertemu dengan leluhurnya di surga. Dalam praktek sebenarnya, potong gigi bukan berarti gigi dipotong hingga habis, melainkan hanya merapikan atau mengikir enam gigi pada rahang atas, yaitu empat gigi seri dan dua taring kiri dan kanan yang dipercaya untuk menghilangkan enam sifat buruk yang melekat pada diri seseorang, yaitu kama (hawa nafsu), loba (tamak), krodha (amarah), mada (mabuk), moha (bingung), dan matsarya (iri hati atau dengki). Keenam sifat buruk tersebut biasanya disebut dengan sad ripu. Biasanya tradisi potong gigi ini digelar saat anak laki-laki ataupun perempuan sudah menginjak usia dewasa yang ditandai dengan datangnya menstruasi untuk perempuan dan membesarnya suara untuk laki-laki.


Kamis, 18 Oktober 2012

bedugul

ulun danu bedugul bali
Di Objek wisata Bedugul terdapat sebuah pura yang bernama pura di ulun danu yang terletak di pinggir danau beratan. Pura ulun danu di percaya sebagai tempat bersemayaman dewi sri atau dewi kesububuran.
Lokasi
objek wisata bedugul terletak di desa Candi Kuning, Kecamatan Baturit kabupaten tabanan kurang lebih jaraknya 45 km dari pusat kota kabupaten dan Jaraknya dari kota denpasar sekitar 50 km ke arah utara mengikuti jalan raya Pura tersebut berada di tepi danau Beratan, nama pura ulun danu diambil dari kata danau.
sejarah
urian sejarah Pura Ulun Danu Beratan diketahui dari arkeologi dan data sejarah yang terdapat dalam lontar babad Mengwi. Di sebelah kiri halaman depan pura Ulun Danu Beratan terdapat sebuah sarkopagus dan sebuah papan batu, yang berasal dari masa tradisi megalitik, sekitar 500 SM. Kedua artefak tersebut sekarang ditempatkan masing-masing di atas Babaturan atau teras diperkirakan lokasi di mana Pura Ulun Danu Beratan, telah digunakan sebagai tempat untuk melaksanakan kegiatan ritual sejak jaman megalitik.
bedugul

GWK

 
Kepala patung GWK
Berikut informasi tentang tempat wisata di Bali :: obyek wisata GWK, Bali.
GWK kependekan dari Garuda Wisnu Kencana yang artinya "burung Garuda Kendaraan Dewa Wisnu", merupakan salah satu obyek wisata di bali,  yang  terletak diatas dataraan tinggi batu kapur padas dan menatap kawasan wisata dipesisir selatan Bali, dan berjarak 25 km dari Denpasar / 15 km dari Bandara, Garuda Wisnu Kencana Cultural Park adalah jendela seni dan budaya Pulau Dewata yang memiliki latar belakang alami serta panorama yang sangat mengagumkan.
Dengan luas 250 hektar akan merangkum semua kegiatan budaya Bali di sini. pengunjung GW K akan menyaksikan kemegahan monumental dan kekhusukan spiritual yang mana kesemuanya disempurnakan dengan sentuhan modern dengan fasilitas dan pelayanan yang tepat guna. Amphitheatre dengan kapasitas 800 tempat duduk dan tatanan acoustic kelas satu, merupakan tempat yang tak tertandingi untuk pagelaran seni budaya.
 

wisata di bali










Pura Luhur Uluwatu


Pura Luhur Uluwatu

Pemandangan dari arah Pura Luhur Uluwatu
Pura Luhur Uluwatu atau Pura Uluwatu merupakan pura yang berada di wilayah Desa Pecatu, Kecamatan Kuta, Badung.
Pura yang terletak di ujung barat daya pulau Bali di atas anjungan batu karang yang terjal dan tinggi serta menjorok ke laut ini merupakan Pura Sad Kayangan yang dipercaya oleh orang Hindu sebagai penyangga dari 9 mata angin. Pura ini pada mulanya digunakan menjadi tempat memuja seorang pendeta suci dari abad ke-11 bernama Empu Kuturan. Ia menurunkan ajaran Desa Adat dengan segala aturannya. Pura ini juga dipakai untuk memuja pendeta suci berikutnya, yaitu Dang Hyang Nirartha, yang datang ke Bali pada akhir tahun 1550 dan mengakhiri perjalanan sucinya dengan apa yang dinamakan Moksah atau Ngeluhur di tempat ini. Kata inilah yang menjadi asal nama Pura Luhur Uluwatu.[1]
Pura Uluwatu terletak pada ketinggian 97 meter dari permukaan laut. Di depan pura terdapat hutan kecil yang disebut alas kekeran, berfungsi sebagai penyangga kesucian pura.
Pura Uluwatu mempunyai beberapa pura pesanakan, yaitu pura yang erat kaitannya dengan pura induk. Pura pesanakan itu yaitu Pura Bajurit, Pura Pererepan, Pura Kulat, Pura Dalem Selonding dan Pura Dalem Pangleburan. Masing-masing pura ini mempunyai kaitan erat dengan Pura Uluwatu, terutama pada hari-hari piodalan-nya. Piodalan di Pura Uluwatu, Pura Bajurit, Pura Pererepan dan Pura Kulat jatuh pada Selasa Kliwon Wuku Medangsia setiap 210 hari. Manifestasi Tuhan yang dipuja di Pura Uluwatu adalah Dewa Rudra.[2]
Pura Uluwatu juga menjadi terkenal karena tepat di bawahnya adalah pantai Pecatu yang sering kali digunakan sebagai tempat untuk olahraga selancar, bahkan even internasional seringkali diadakan di sini. Ombak pantai ini terkenal amat cocok untuk dijadikan tempat selancar selain keindahan alam Bali yang memang amat cantik.

Rabu, 17 Oktober 2012

Bali

Apresiasi Sastra FPBS IKIP PGRI Bali
Rektor Baca Puisi, Acri Pakai "Ongkara"
MAHASISWA Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia dan Daerah Bali, FPBS IKIP kembali menggelar kuliah umum dan apresiasi sastra dengan mendatangi sastrawan ternama. Kali ini FPBS IKIP mengundang sastrawan Dr. Andrea Acri, NH Dini dan I Made Jiwa Atmaja, S.U. Yang menarik di acara pembukaan, Rektor IKIP PGRI Bali, Dr. I Made Suarta, S.H., M.Hum. membacakan puisi secara sempurna dengan judul "Selamat jalan I Gusti Ngurah Lempad". Selain juga pembacaan puisi modern oleh Samargantang dan puisi oleh Putu Budi Eka Yani, musikalisasi puisi oleh Tan Lioe Le dan monolog oleh Abubakar, dkk. Hadir pada acara itu Ketua YPLP PT IKIP PGRI Bali, Drs. IGB Arthanegara, S.H., M.Pd. dan Sekretaris Ngurah Oka.

Kuliah umum kemarin mengangkat tema "Kebudayaan Bali dan Apresiasi Sastra". Dalam acara itu Dr. Acri memaparkan perspektif etic (barat) versus perspektif emic (lokal). Tulisannya agak mengejutkan, karena di awal makalahnya ditampilkan huruf Ongkara. Ternyata Dr. Acri sudah akrab dengan Ongkara sebagai orang Barat yang suka meneliti Hindu di Bali.

Menurut Dekan FPBS IKIP PGRI Bali, Drs. Nengah Arnawa, M.Hum., Andrea Acri adalah ahli bahasa Sansekerta dan Jawa Kuno. Dia seorang kritik teks menekuni bidang ilmu yang langka. Arnawa didampingi Kaprodi Bahasa Indonesia dan Daerah, IA Agung Ekasriadi, S.Pd., M.Hum., mengatakan apresiasi sastra tersebut dalam rangka memberi pemahaman dan pengalaman tentang kebudayaan Bali.

Kajian teks, kata Arnawa, memberi nilai akademik dan sosiologik serta nilai-nilai humaniora. Di samping itu, untuk menggairahkan penekun teks kita dalam mengkaji dan menyebarluaskan kajiannya kepada masyarakat. Dengan demikian, kita terhindar dari budaya gugon tuwon di Bali. Untuk itu, dialog dengan sastrawan ini diharapkan meningkatkan nilai akademik di FPBS IKIP PGRI Bali.

Sementara Dr. Acri mengatakan, tutur atau tatwa sangat kental di Bali. Agama Hindu yang dikenal dengan sanatana darma harus dikaji dari berbagai perspektif. Agama Hindu di Bali bisa dikaji lewat perspektif tradisi Bali, modern-antropologi, modern historical. Perspektif orang Bali pun masih dipisahkan dengan perspektif tradisi Bali, masa Belanda dan pascamerdeka.

NH Dini dalam acara itu memaparkan terkait kreativitas dalam penulisan dan melahirkan budaya menulis. Sementara Jiwa Atmaja soal apresiasi sastra dan penguat imajinasi produktif.

NH Dini menegaskan, bahwa yang terpenting dalam membentuk budaya menulis adalah penataan sistematis dari gagasan dan tema yang disampaikan kepada pembaca. Bagi dia, menulis itu mudah jika si pelaku mempunyai kebiasaan mengungkapkan isi pikirannya dalam bentuk tulisan. Saat itulah dia bisa dikatakan memiliki budaya menulis.

Dia mengatakan, untuk bisa menulis sesuatu yang baik, kita harus memodali diri dengan pengetahuan. Seperti, sering membaca sejumlah karya tulis dari penulis ternama dan sering berlatih serta mewujudkannya. Di samping itu, sering mendengarkan suara kehidupan di keliling kita juga membantu memperkuat kepekaan jiwa penulis. (ad3)


Senin, 15 Oktober 2012

Berita

PDIP Tak Masalah Prabowo Lewatkan Pelantikan Jokowi

Elvan Dany Sutrisno - detikNews
Berbagi informasi terkini dari detikcom bersama teman-teman Anda
Jakarta Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Prabowo Subianto absen menghadiri pelantikan Joko Widodo (Jokowi) menjadi gubernur DKI Jakarta. Mitra koalisinya, PDIP, tak mempermasalahkan hal ini.

"Tidak ada masalah menurut saya. Bu Mega Ketua Umum PDIP dan Pak Prabowo tokoh utama Gerindra, itu saja," kata Sekjen PDIP Tjahjo Kumolo, menepis memanasnya hubungan Mega-Prabowo menyangkut isu 'penumpang gelap' di balik kemenangan Jokowi.

Hal ini disampaikan Tjahjo saat berbincang dengan detikcom, Senin (15/10/2012).

Pandangan senada disampaikan Ketua DPP PDIP bidang Kepemudaan, Maruarar Sirait. Menurut Maruarar, Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri memang sudah sejak lama berkomitmen menghadiri pelantikan Jokowi. Megawati, menurut Maruarar, bekerja sangat keras untuk kemenangan Jokowi.

"Pertaruhan politik di DKI Jakarta ini bagaimana mengerahkan mesin politik partai dari DPD, DPC, PAC. Di bawah komando Ibu Mega hampir setahun ini, kemenangan Jokowi ini bagian dari komando Ibu Mega," kata Maruarar.

Lebih dari itu, Maruarar menambahkan, majunya Jokowi di Pilgub DKI karena rekomendasi langsung Megawati. Meskipun kemudian lebih banyak Prabowo yang muncul di iklan televisi bersama Jokowi.

"Keputusan memilih Jokowi itu kan lahir dari rekomendasi yang ditandatangani Ibu Mega. Di mana memperhatikan dukungan publik yang kuat dan sudah terbukti memperhatikan berbagai aspek masyarakat. Jokowi akan kita kawal dan kita pastikan harus mewujudkan Jakarta Baru," tegasnya.

Sebelumnya diberitakan Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra yang juga capres Partai Gerindra Prabowo Subianto tak hadir di pelantikan Jokowi sebagai Pilgub DKI. Sekjen Partai Gerindra Ahmad Muzani menegaskan ketidakhadiran Prabowo karena pelantikan Jokowi yang ditunda-tunda hingga Prabowo ada acara lain. Muzani membantah ketidakhadiran Prabowo karena memanasnya hubungan Mega-Prabowo menyangkut sindiran keras Mega soal 'penumpang gelap' dibalik kemenangan Jokowi.

(van/nrl)