Selasa, 07 Mei 2013

cerpen



Khayalan Cintaku

                Kutatap sosok pria tampan yang duduk tepat di samping kanan belakang jika dilihat dari  bangkuku.  Dia terlihat manis, dan tampak serius belajar, tentunya dalam keadaan yang tidak dia sadari. Deva, Deva…. Kau begitu sempurna bagiku, kau begitu tampan, cerdas, ketua OSIS lagi  . Aku benar-benar mengaguminya. Melihatnya saja aku benar-benar terkagum. Aku gak peduli sama pelajaran yang berlangsung, apalagi sekarang jam pelajaran sejarah. Aku bisa ketiduran apabila mendengar penjelasan Pak guru yang seolah tak berujung itu. Akupun membuka buku tulisku tepatnya bagian paling belakang, kulukis wajah Deva yang menawan. Saking asyiknya, melukis wajah Deva, tiba-tiba Reni mengejutkanku.
                “ Cin, kamu gambar apa tuh? Serius amat! Boleh liat gak?” Ujar Reni, teman sebangkuku sembari menoleh kearah lukisanku. Aku terkejut, untung saja aku tidak latah. Kalau aku latah, aku pasti langsung bicara sesuatu yang menggemparkan kelasku ini. Segera kututup bukuku, dan langsung pura-pura menyimak Pak Guru dengan serius.
                Bel pun berbunyi 2 kali , menandakan tibanya saat istirahat. Reni mendekati bukuku yang tadi.
                “Cin, kasi tau aku dong, kamu buat apa sih  tadi?” Ujarnya sembari mengintip gambarku.
                “Rahasia dong Reni saying, Pengen tau banget sich…” Ujarku sembari menutup bukuku yang tadi. Aku gak mau Reni tau kalau aku diam-diam melukis Deva. Aku juga gak mau Reni tau kalau selama ini aku ada perasaan dengan Deva.
                “Roman-romannya ilustrasi seorang cowok. Siapa sih?” Bisiknya mengejutkanku.
                “Bukan siapa-siapa Ren, toh aku gak mungkin dapetin dia. Dia emang berkesan bagiku. Tapi kurasa kami gak mungkin bersatu. Ada banyak  perbedaan antara kami. Dan dia…. Hm…. Biarlah Ren.” Ujarku menceritakan perasaanku pada sahabatku yang satu ini.
                “O gitu, tapi kamu gak boleh nyerah gitu aja Cin, kamu kasi tau ma aku capa cowok itu, aku siap kok bantu kamu.” Ujar sahabatku nampak penasaran. Aku hanya tersenyum.
                “Tapi kalau dipikir-pikir aku gak cinta mati ma dia kok, paling cuma ngefans doang, bukan cinta Reni, ok mending kita kantin ja yuks! Laper nih.” Ujarku sembari mengalihkan pembicaraan. Sahabatku hanya tersenyum manis. Dia hanya mengikuti kehendakku saja. Akupun menelusuri jalan untuk ke kantin, namun di tengah perjalanan, bel berdentang lagi namun sekarang dalam artian  masuk kelas. Jadi aku kembali ke tempat duduk semula. Kukeluarkan lagi sketsa yang belum jadi, kucoba tuk selesaikan. Meskipun jam segini temen-temen lagi ribut kaya pasar karena gak ada guru, tetapi tetap kulanjutkan goresanku ini tanpa peduli keadaan sekitarku. Sejenak kulihat kembali cowok tampan yang masih berkutat dengan bukunya itu. Kutatap dia , dan dia melihat kearahku seketika. Aku menjadi salah tingkah, apalagi dia melambaikan tangan sembari tersenyum padaku. Hm… senyumnya amat manis. Melihat senyumnya saja aku sangat bahagia. SREET, tatapan tajamnya menuju kepadaku, dia mengernyitkan keningnya dan menoleh kearah temannya yang duduk didepanku. OMG, Ternyata dari tadi Deva berbicara jarak jauh dengan temannya, bukan perhatian padaku. Aku jadi malu. Akupun berpura-pura berbicara dengan Sarah, temanku yang duduk dibelakang Deva, supaya tidak terkesan aku memperhatikannya.
                “Hm, Deva nih Cin, ternyata kamu suka dia ya,Cie.” Ujar Reni menggodaku.
                “Gak siapa bilang, Aku….” Ujarku terbata saking terkejutnya.
                “Bibir kamu bisa bilang boong, tapi mata kamu bilang apa yang kubilang barusan bener kok, Cie.” bisik Reni. Aku jadi sebel, akupun menggelitik dia saking gemes sama godaan dia. Namun, temen-temen yang lain malah menonton kami. Dan Deva mengacuhkanku. Aku salah tingkah, kusimpulkan tangan dimeja, dan bersamaan dengan itu, bel pulang berbunyi. Untunglah sketsanya sudah selesai. Jadi wajah Deva bisa kupandang setiap saat. Hm, Deva,Deva meskipun kamu mengacuhkanku, mengapa aku tetap mengagumimu? Aku tidak tahu sebabnya, yang jelas aku benar-benar mengagumi sosokmu.
                Malam ini, kubuka jendela kamarku kutatap ciptaan Tuhan yang menerangi malam yang indah ini. Kuperhatikan deretan bintang yang berjejer di langit. Kuhubungkan 1 per 1, dan terbentuklah wajah yang kuidamkan, Deva. Khayalanku pun melayang, melayang tinggi. Kuingat senyum Deva tadi siang. Meskipun senyum manis itu bukan untukku,tapi aku bahagia melihat dia tersenyum. Andaikan saja senyum itu untukku, mungkin aku sangat bahagia.
                “Oh, Bulan sampaikan salamku kepada dia yang kuidamkan.” Ujarku sembari tersenyum. Kutatap lagi deretan bintang tadi, Kukecup  telapak tangganku sendiri dan kutiup menghadap bintang tadi. Akupun tersenyum menatap benda-benda langit. Tiba-tiba, Sreet, terdengar suara pintu dibuka.
                “Cin, kamu belum tidur, Sekarang udah mendekati pukul 1.00 lho, Besok kan kamu sekolah.” Kakakku mengingatkanku.
                “Ya kak, sekarang aku mau tidur, kakak gak tidur?” Ujarku sembari menutup jendela kamarku.
                “Bentar kakak tidur, ya udah. Lekas tidur Cin, supaya besok kamu bisa bangun pagi, Good Night.”Ujar kakakku sembari menutup pintu kamarku.
                “Good night kak.” Ujarku sembari membaringkan diriku di tempat tidurku yang nyaman.
                Tiba-tiba langit cerah  membentang dan menyambutku begitu cepat. Aku berjalan perlahan ke suatu tempat, tempat itu adalah rumah Deva. Disana hanya ada aku dan Deva. Hm… aku melamun dan memandangi cowok tampan di depanku.
                “Cin, teman-teman lain belum datang.”Ujar cowok itu agak manis.
                “Kayaknya sih belum Dev.” Ujarku sembari tersenyum dan pandangi wajahnya yang semakin lama semakin manis dimataku. Seketika ekspresi Deva terlihat marah karena teman-teman gak ada yang datang, dan kudengar suara handphone singkat seperti bunyi SMS. Segera Deva mengambil handphone
                “Gila, Anak-anak mau datang jam 15.00, parah. Trus kita,Hm… Mending kita ke toko buku , sambil nunggu anak-anak,Ayo Cin.” Ujarnya sembari menuntunku ke Tarunanya , tepatnya  di sampingnya. Oh My Good, Melihatnnya dari dekat, rasanya aku benar-benar tak menyangka. Kutatap dia tanpa berkedip.
                “Hey, kamu kenapa? Kita sudah sampai.” Ujar Deva sembari tersenyum padaku.
                “O gak pa-pa kok, tadi aku Cuma melihat pemandangan aja di balik kaca disamping kamu duduk, maaf kalo aku mengganggumu.” Ujarku mencari-cari alasan sembari tersenyum semanis mungkin pada cowok itu.
                “Oh gitu, Ayo turun.” Ujarnya begitu hangat padaku dan menuntunku ke toko buku.
                Di Toko Buku kecil itu aku dan cowok keren disampingku mulai mencari-cari buku yang sesuai dengan topic presentasi. Mataku mulai melihat buku-buku yang mungkin menarik. Ekor matakupun mulai menuju ke deretan buku yang paling atas. Sebuah buku bersampul hijau menarik perhatianku. Tanganku mulai meraih buku itu, tapi Aw, aku terpeleset dan  Deva menangkapku. Dari raut wajahnya terlihat cemas.
                “Kamu gak pa-pa kan, ini buku yang kamu mau?”Ujarnya sembari memapahku dan memberikan buku itu padaku. Aku mengangguk. Diapun mengantarku pulang.
                “Kamu istirahat ya. Kamu gak usah mikirin kerja kelompok. Biar aku aja yang urus. Cepat sembuh ya dan makasi kamu udah temenin dan bantuin cari buku yang pas buat tugas presentasi kita.” Ujar Deva begitu lembut sembari mengusap-usap rambutku dengan lembut di kamarku. Diapun tinggalkanku.
                Sore menjelang malam dia datang menengokku dengan senyum hangatnya.
                “Cin, kamu udah mendingan, O ya ada bubur buat kamu.” Ujarnya sembari menyuapiku bubur. Aku mencoba bangun dan bubur itu mulai masuk ke mulutku. Sejenak dia tersenyum. Ditaruhnya bubur itu, tangannya mulai memegang tanganku.
                “Maafin aku ya tadi, gara-gara nemenin aku, kamu malah seperti ini. Dan jujur diam-diam aku mulai memperhatikanmu” Ujar cowok tampan itu sembari mengecup keningku. Tiba-tiba…. Bukk… akupun terjatuh dari tempat tidurku. Ya ampun ternyata ini hanyalah mimpi, mimpi yang begitu indah. Kutengok jam weker yang menandakan pukul 6.30. ‘Ya ampun aku kesiangan.’ Pekikku dalam hati. Segeraku siap-siap dalam waktu 15 menit, tanpa sarapan, meskipun cacing-cacing di perut berontak, peduli amat. Yang penting pukul 07.00 aku ada disekolah. Aku benar-benar buru-buru, terpaksa aku tidak melewati jalan utama seperti biasa. Cukup jalan pintas aja. Sampai sekolah , pas ketika pak satpam mau tutup gerbang. Kuterobos gerbang dan sampai kelas pas bel berbunyi. Semua murid yang berada di sekolah masuk kelas mereka masing-masing
                Akupun duduk di bangkuku dan mulai melakukan kegiatan sembahyang bersama. Beberapa menit kemudian guru IPAku, datang. Secara otomatis kami membagi diri sesuai kelompok masing-masing. Termasuk aku yang kebetulan 1 kelompok dengan Deva. Aku duduk, persis berhadapan dengannya. Aku mulai memandangnya ketika dia serius diskusi dengan teman-teman lainnya. Namun seketika terlihat senyum yang begitu manis yang ia tujukan padaku. Aku membalasnya dengan senyumku.
                “Cin, maukah kamu jadi kekasihku, aku menyukaimu.” Ujar Deva menatapku teduh.
                “mau.”Ujarku singkat , namun ternyata menggemparkan teman sekelompokku.
                “Hey, Cin, mau apaan? Aneh.” Ujar Bagas , temanku yang terlihat begitu terkejut.
                “Aku mau . Maksudnya presentasi, aku sadar dalam kegiatan presentasi ini aku merasa tidak begitu berpartisipasi dengan karya ini.” Ujarku  keceplosan begitu saja. Padahal sedikitpun aku tidak belajar kemarin. ‘Semoga bisa’ semangatku pada diri sendiri. Hingga tibalah saatnya kelompokku yang presentasi. Dengan kaki yang cukup gemetar aku melangkah. Kucoba presentasikan lewat LCD, meskipun penuh kegugupan. Dan dalam sesi pertanyaan , aku tak bisa menjawab dengan sempurna. Dalam 5 pertanyaan hanya mampu kujawabdengan benar 2 sisanya hanya logika dan diluruskan oleh Deva.
                Ketika presentasi selesai Deva begitu menatapku tajam dan dingin. Aku pasti mengecewakannya. Aku benar-benar merasa bersalah. Aku duduk di tempatku tadi, tapi aku masih merasa gak enak, tubuhku terasa dipanggang oleh panasnya sinar mata Deva.
                “Anak-anak minggu depan tolong siapkan kodok, seekor ikan dan seekor kadal , karena minggu depan kita akan melakukan percobaan.” Ujar Pak Guru yang disambut sorakan teman-teman setuju dan semangat. Aku pun duduk di bangkuku semula.
                “Cin, kamu hebat. Kuakui kemampuanmu meski tak terlalu bagus,tapi kamu jangan sedih gitu. Atau nyalahin diri sendiri karena presentasimu gak sempurna dan ngecewain pujaan hati kamu.” Ujar Reni memujiku sekaligus mengodaku. Aku hanya tersenyum malas. Aku masih merasa amat bersalah sama dia.
                “Cin,cin jangan gitu dong, keep smile, apapun masalahnya jangan dipendam dan jangan ngelamun gitu dong. Kalau kamu ngelamun takutnya kamu akan kesurupan dan aku gak bisa bayangin , kalo kamu tiba-tiba makan pulpen , buku bahkan bangku ini sekalipun.”Ujar Tio sahabatku menghibur sekaligus ngebayangin yang gak-gak. Awalnya aku manyun tapi setelah kubayangkan apa yang Tio bilang aku jadi tertawa sendiri.
                “Aneh loe Tio, masak aku dibayangin kayak kuda lumping yang makan barang yang tidak boleh dimakan.” Ujarku ketawa.
                “Gitu dong.” Ujar Tio  tersenyum hangat padaku. Andaikan Deva seperti Tio aku pasti bahagia. Aku mulai melamun lagi.
                “Udahlah Cin, kamu jangan sedih terus, ntar aku traktir bakso deh. Di Warung Bakso Pak Karim.”Ujar Reni memegang bahuku. Aku tersenyum.
                Benar saja pulang sekolah ini Reni mengajakku ke warung bakso Pak Karim. Dengan semangat aku mencari tempat yang pas untuk makan bakso. Aku dan Renipun duduk di meja yang nyaman. Pak Karimpun menyediakan pesananku dengan sigap. Aku mulai memberi bumbu ketika bakso itu hinggap di mejaku. Sementara tanganku asyik mengoleskan sambal di mangkok bakso,  tanpa sengaja mataku menatap ke arah bangku paling pojok. Sekilas kulihat seorang cowok dan cewek sedang pacaran, suap-suapan. Awalnya aku tidak peduli, namun semakin kuperhatikan, aku merasa tak asing dengan cowok itu.
“Deva” Ujarku mendadak. Seketika aku mulai berdiri hendak menghampiri mereka. Reni melihat kearah tatapanku tadi.
“Cin,Cintya sabar. Dia udah milik orang lain. Biarlah. Tempo hari kan kamu pernah bilang kalau dia dan kamu gak mungkin bersama. Jadi sabaar.” Hibur sahabatku sembari menarik tanganku.
“aku ingin pulang Ren, antar aku pulang, please.”Ujarku memaksa sembari naik motornya. Renipun mengikuti keinginanku.
Sampai rumah, aku pergi ke kamar. Aku menangis sejadi-jadinya,tanpa ada yang hiraukanku. Sejenak kutenangkan diri hingga berfikir jernih. Kuambil sketsa dalam tasku. Kupegang sketsa itu, dan kutatap wajah Deva dalam sketsa.
“Deva, aku baru sadar bahwa cinta itu tidak bisa dimilliki, dan kamu terlihat lebih bahagia dengannya. Biarlah aku mencintaimu dalam khayalanku saja, hanya dalam khayalanku saja. Dan sekarang aku tidak boleh memimpikanmu lagi dan hidup dalam cinta khayalan ini. Ada hal yang penting tuk ku hadapi. Sebuah kenyataan yang begitu disayangkan bila aku menyia-nyiakannya. Jadi sekarang aku takkan mengganggumu Deva, jadi selamat tinggal, dan kan kumulai hidup baruku dengan sebuah kenyataan yang indah.”Ujarku sembari merobek sketsa dan mencoba menatap masa depan yang baru.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar