Khayalan Cintaku
Kutatap
sosok pria tampan yang duduk tepat di samping kanan belakang jika dilihat dari bangkuku. Dia terlihat manis, dan tampak serius belajar,
tentunya dalam keadaan yang tidak dia sadari. Deva, Deva…. Kau begitu sempurna
bagiku, kau begitu tampan, cerdas, ketua OSIS lagi . Aku benar-benar mengaguminya. Melihatnya
saja aku benar-benar terkagum. Aku gak peduli sama pelajaran yang berlangsung,
apalagi sekarang jam pelajaran sejarah. Aku bisa ketiduran apabila mendengar
penjelasan Pak guru yang seolah tak berujung itu. Akupun membuka buku tulisku
tepatnya bagian paling belakang, kulukis wajah Deva yang menawan. Saking
asyiknya, melukis wajah Deva, tiba-tiba Reni mengejutkanku.
“
Cin, kamu gambar apa tuh? Serius amat! Boleh liat gak?” Ujar Reni, teman sebangkuku
sembari menoleh kearah lukisanku. Aku terkejut, untung saja aku tidak latah.
Kalau aku latah, aku pasti langsung bicara sesuatu yang menggemparkan kelasku
ini. Segera kututup bukuku, dan langsung pura-pura menyimak Pak Guru dengan
serius.
Bel
pun berbunyi 2 kali , menandakan tibanya saat istirahat. Reni mendekati bukuku
yang tadi.
“Cin,
kasi tau aku dong, kamu buat apa sih tadi?”
Ujarnya sembari mengintip gambarku.
“Rahasia
dong Reni saying, Pengen tau banget sich…” Ujarku sembari menutup bukuku yang
tadi. Aku gak mau Reni tau kalau aku diam-diam melukis Deva. Aku juga gak mau
Reni tau kalau selama ini aku ada perasaan dengan Deva.
“Roman-romannya
ilustrasi seorang cowok. Siapa sih?” Bisiknya mengejutkanku.
“Bukan
siapa-siapa Ren, toh aku gak mungkin dapetin dia. Dia emang berkesan bagiku.
Tapi kurasa kami gak mungkin bersatu. Ada banyak perbedaan antara kami. Dan dia…. Hm…. Biarlah
Ren.” Ujarku menceritakan perasaanku pada sahabatku yang satu ini.
“O
gitu, tapi kamu gak boleh nyerah gitu aja Cin, kamu kasi tau ma aku capa cowok
itu, aku siap kok bantu kamu.” Ujar sahabatku nampak penasaran. Aku hanya
tersenyum.
“Tapi
kalau dipikir-pikir aku gak cinta mati ma dia kok, paling cuma ngefans doang,
bukan cinta Reni, ok mending kita kantin ja yuks! Laper nih.” Ujarku sembari
mengalihkan pembicaraan. Sahabatku hanya tersenyum manis. Dia hanya mengikuti
kehendakku saja. Akupun menelusuri jalan untuk ke kantin, namun di tengah
perjalanan, bel berdentang lagi namun sekarang dalam artian masuk kelas. Jadi aku kembali ke tempat duduk
semula. Kukeluarkan lagi sketsa yang belum jadi, kucoba tuk selesaikan.
Meskipun jam segini temen-temen lagi ribut kaya pasar karena gak ada guru,
tetapi tetap kulanjutkan goresanku ini tanpa peduli keadaan sekitarku. Sejenak
kulihat kembali cowok tampan yang masih berkutat dengan bukunya itu. Kutatap
dia , dan dia melihat kearahku seketika. Aku menjadi salah tingkah, apalagi dia
melambaikan tangan sembari tersenyum padaku. Hm… senyumnya amat manis. Melihat
senyumnya saja aku sangat bahagia. SREET, tatapan tajamnya menuju kepadaku, dia
mengernyitkan keningnya dan menoleh kearah temannya yang duduk didepanku. OMG, Ternyata
dari tadi Deva berbicara jarak jauh dengan temannya, bukan perhatian padaku.
Aku jadi malu. Akupun berpura-pura berbicara dengan Sarah, temanku yang duduk
dibelakang Deva, supaya tidak terkesan aku memperhatikannya.
“Hm,
Deva nih Cin, ternyata kamu suka dia ya,Cie.” Ujar Reni menggodaku.
“Gak
siapa bilang, Aku….” Ujarku terbata saking terkejutnya.
“Bibir
kamu bisa bilang boong, tapi mata kamu bilang apa yang kubilang barusan bener
kok, Cie.” bisik Reni. Aku jadi sebel, akupun menggelitik dia saking gemes sama
godaan dia. Namun, temen-temen yang lain malah menonton kami. Dan Deva mengacuhkanku.
Aku salah tingkah, kusimpulkan tangan dimeja, dan bersamaan dengan itu, bel
pulang berbunyi. Untunglah sketsanya sudah selesai. Jadi wajah Deva bisa
kupandang setiap saat. Hm, Deva,Deva meskipun kamu mengacuhkanku, mengapa aku
tetap mengagumimu? Aku tidak tahu sebabnya, yang jelas aku benar-benar
mengagumi sosokmu.
Malam
ini, kubuka jendela kamarku kutatap ciptaan Tuhan yang menerangi malam yang
indah ini. Kuperhatikan deretan bintang yang berjejer di langit. Kuhubungkan 1
per 1, dan terbentuklah wajah yang kuidamkan, Deva. Khayalanku pun melayang,
melayang tinggi. Kuingat senyum Deva tadi siang. Meskipun senyum manis itu
bukan untukku,tapi aku bahagia melihat dia tersenyum. Andaikan saja senyum itu
untukku, mungkin aku sangat bahagia.
“Oh,
Bulan sampaikan salamku kepada dia yang kuidamkan.” Ujarku sembari tersenyum.
Kutatap lagi deretan bintang tadi, Kukecup telapak tangganku sendiri dan kutiup menghadap
bintang tadi. Akupun tersenyum menatap benda-benda langit. Tiba-tiba, Sreet,
terdengar suara pintu dibuka.
“Cin,
kamu belum tidur, Sekarang udah mendekati pukul 1.00 lho, Besok kan kamu
sekolah.” Kakakku mengingatkanku.
“Ya
kak, sekarang aku mau tidur, kakak gak tidur?” Ujarku sembari menutup jendela
kamarku.
“Bentar
kakak tidur, ya udah. Lekas tidur Cin, supaya besok kamu bisa bangun pagi, Good
Night.”Ujar kakakku sembari menutup pintu kamarku.
“Good
night kak.” Ujarku sembari membaringkan diriku di tempat tidurku yang nyaman.
Tiba-tiba
langit cerah membentang dan menyambutku
begitu cepat. Aku berjalan perlahan ke suatu tempat, tempat itu adalah rumah
Deva. Disana hanya ada aku dan Deva. Hm… aku melamun dan memandangi cowok
tampan di depanku.
“Cin,
teman-teman lain belum datang.”Ujar cowok itu agak manis.
“Kayaknya
sih belum Dev.” Ujarku sembari tersenyum dan pandangi wajahnya yang semakin
lama semakin manis dimataku. Seketika ekspresi Deva terlihat marah karena
teman-teman gak ada yang datang, dan kudengar suara handphone singkat seperti
bunyi SMS. Segera Deva mengambil handphone
“Gila,
Anak-anak mau datang jam 15.00, parah. Trus kita,Hm… Mending kita ke toko buku
, sambil nunggu anak-anak,Ayo Cin.” Ujarnya sembari menuntunku ke Tarunanya ,
tepatnya di sampingnya. Oh My Good,
Melihatnnya dari dekat, rasanya aku benar-benar tak menyangka. Kutatap dia
tanpa berkedip.
“Hey,
kamu kenapa? Kita sudah sampai.” Ujar Deva sembari tersenyum padaku.
“O
gak pa-pa kok, tadi aku Cuma melihat pemandangan aja di balik kaca disamping
kamu duduk, maaf kalo aku mengganggumu.” Ujarku mencari-cari alasan sembari
tersenyum semanis mungkin pada cowok itu.
“Oh
gitu, Ayo turun.” Ujarnya begitu hangat padaku dan menuntunku ke toko buku.
Di
Toko Buku kecil itu aku dan cowok keren disampingku mulai mencari-cari buku
yang sesuai dengan topic presentasi. Mataku mulai melihat buku-buku yang
mungkin menarik. Ekor matakupun mulai menuju ke deretan buku yang paling atas.
Sebuah buku bersampul hijau menarik perhatianku. Tanganku mulai meraih buku
itu, tapi Aw, aku terpeleset dan Deva
menangkapku. Dari raut wajahnya terlihat cemas.
“Kamu
gak pa-pa kan, ini buku yang kamu mau?”Ujarnya sembari memapahku dan memberikan
buku itu padaku. Aku mengangguk. Diapun mengantarku pulang.
“Kamu
istirahat ya. Kamu gak usah mikirin kerja kelompok. Biar aku aja yang urus.
Cepat sembuh ya dan makasi kamu udah temenin dan bantuin cari buku yang pas
buat tugas presentasi kita.” Ujar Deva begitu lembut sembari mengusap-usap
rambutku dengan lembut di kamarku. Diapun tinggalkanku.
Sore
menjelang malam dia datang menengokku dengan senyum hangatnya.
“Cin,
kamu udah mendingan, O ya ada bubur buat kamu.” Ujarnya sembari menyuapiku
bubur. Aku mencoba bangun dan bubur itu mulai masuk ke mulutku. Sejenak dia
tersenyum. Ditaruhnya bubur itu, tangannya mulai memegang tanganku.
“Maafin
aku ya tadi, gara-gara nemenin aku, kamu malah seperti ini. Dan jujur diam-diam
aku mulai memperhatikanmu” Ujar cowok tampan itu sembari mengecup keningku.
Tiba-tiba…. Bukk… akupun terjatuh dari tempat tidurku. Ya ampun ternyata ini
hanyalah mimpi, mimpi yang begitu indah. Kutengok jam weker yang menandakan pukul
6.30. ‘Ya ampun aku kesiangan.’ Pekikku dalam hati. Segeraku siap-siap dalam
waktu 15 menit, tanpa sarapan, meskipun cacing-cacing di perut berontak, peduli
amat. Yang penting pukul 07.00 aku ada disekolah. Aku benar-benar buru-buru,
terpaksa aku tidak melewati jalan utama seperti biasa. Cukup jalan pintas aja.
Sampai sekolah , pas ketika pak satpam mau tutup gerbang. Kuterobos gerbang dan
sampai kelas pas bel berbunyi. Semua murid yang berada di sekolah masuk kelas
mereka masing-masing
Akupun
duduk di bangkuku dan mulai melakukan kegiatan sembahyang bersama. Beberapa
menit kemudian guru IPAku, datang. Secara otomatis kami membagi diri sesuai
kelompok masing-masing. Termasuk aku yang kebetulan 1 kelompok dengan Deva. Aku
duduk, persis berhadapan dengannya. Aku mulai memandangnya ketika dia serius
diskusi dengan teman-teman lainnya. Namun seketika terlihat senyum yang begitu
manis yang ia tujukan padaku. Aku membalasnya dengan senyumku.
“Cin,
maukah kamu jadi kekasihku, aku menyukaimu.” Ujar Deva menatapku teduh.
“mau.”Ujarku
singkat , namun ternyata menggemparkan teman sekelompokku.
“Hey,
Cin, mau apaan? Aneh.” Ujar Bagas , temanku yang terlihat begitu terkejut.
“Aku
mau . Maksudnya presentasi, aku sadar dalam kegiatan presentasi ini aku merasa
tidak begitu berpartisipasi dengan karya ini.” Ujarku keceplosan begitu saja. Padahal sedikitpun
aku tidak belajar kemarin. ‘Semoga bisa’ semangatku pada diri sendiri. Hingga
tibalah saatnya kelompokku yang presentasi. Dengan kaki yang cukup gemetar aku
melangkah. Kucoba presentasikan lewat LCD, meskipun penuh kegugupan. Dan dalam
sesi pertanyaan , aku tak bisa menjawab dengan sempurna. Dalam 5 pertanyaan
hanya mampu kujawabdengan benar 2 sisanya hanya logika dan diluruskan oleh
Deva.
Ketika
presentasi selesai Deva begitu menatapku tajam dan dingin. Aku pasti
mengecewakannya. Aku benar-benar merasa bersalah. Aku duduk di tempatku tadi,
tapi aku masih merasa gak enak, tubuhku terasa dipanggang oleh panasnya sinar
mata Deva.
“Anak-anak
minggu depan tolong siapkan kodok, seekor ikan dan seekor kadal , karena minggu
depan kita akan melakukan percobaan.” Ujar Pak Guru yang disambut sorakan
teman-teman setuju dan semangat. Aku pun duduk di bangkuku semula.
“Cin,
kamu hebat. Kuakui kemampuanmu meski tak terlalu bagus,tapi kamu jangan sedih
gitu. Atau nyalahin diri sendiri karena presentasimu gak sempurna dan ngecewain
pujaan hati kamu.” Ujar Reni memujiku sekaligus mengodaku. Aku hanya tersenyum
malas. Aku masih merasa amat bersalah sama dia.
“Cin,cin
jangan gitu dong, keep smile, apapun masalahnya jangan dipendam dan jangan
ngelamun gitu dong. Kalau kamu ngelamun takutnya kamu akan kesurupan dan aku
gak bisa bayangin , kalo kamu tiba-tiba makan pulpen , buku bahkan bangku ini
sekalipun.”Ujar Tio sahabatku menghibur sekaligus ngebayangin yang gak-gak.
Awalnya aku manyun tapi setelah kubayangkan apa yang Tio bilang aku jadi
tertawa sendiri.
“Aneh
loe Tio, masak aku dibayangin kayak kuda lumping yang makan barang yang tidak
boleh dimakan.” Ujarku ketawa.
“Gitu
dong.” Ujar Tio tersenyum hangat padaku.
Andaikan Deva seperti Tio aku pasti bahagia. Aku mulai melamun lagi.
“Udahlah
Cin, kamu jangan sedih terus, ntar aku traktir bakso deh. Di Warung Bakso Pak
Karim.”Ujar Reni memegang bahuku. Aku tersenyum.
Benar
saja pulang sekolah ini Reni mengajakku ke warung bakso Pak Karim. Dengan
semangat aku mencari tempat yang pas untuk makan bakso. Aku dan Renipun duduk
di meja yang nyaman. Pak Karimpun menyediakan pesananku dengan sigap. Aku mulai
memberi bumbu ketika bakso itu hinggap di mejaku. Sementara tanganku asyik
mengoleskan sambal di mangkok bakso,
tanpa sengaja mataku menatap ke arah bangku paling pojok. Sekilas
kulihat seorang cowok dan cewek sedang pacaran, suap-suapan. Awalnya aku tidak
peduli, namun semakin kuperhatikan, aku merasa tak asing dengan cowok itu.
“Deva” Ujarku
mendadak. Seketika aku mulai berdiri hendak menghampiri mereka. Reni melihat
kearah tatapanku tadi.
“Cin,Cintya
sabar. Dia udah milik orang lain. Biarlah. Tempo hari kan kamu pernah bilang
kalau dia dan kamu gak mungkin bersama. Jadi sabaar.” Hibur sahabatku sembari
menarik tanganku.
“aku ingin
pulang Ren, antar aku pulang, please.”Ujarku memaksa sembari naik motornya.
Renipun mengikuti keinginanku.
Sampai rumah,
aku pergi ke kamar. Aku menangis sejadi-jadinya,tanpa ada yang hiraukanku. Sejenak
kutenangkan diri hingga berfikir jernih. Kuambil sketsa dalam tasku. Kupegang
sketsa itu, dan kutatap wajah Deva dalam sketsa.
“Deva, aku
baru sadar bahwa cinta itu tidak bisa dimilliki, dan kamu terlihat lebih
bahagia dengannya. Biarlah aku mencintaimu dalam khayalanku saja, hanya dalam
khayalanku saja. Dan sekarang aku tidak boleh memimpikanmu lagi dan hidup dalam
cinta khayalan ini. Ada hal yang penting tuk ku hadapi. Sebuah kenyataan yang
begitu disayangkan bila aku menyia-nyiakannya. Jadi sekarang aku takkan
mengganggumu Deva, jadi selamat tinggal, dan kan kumulai hidup baruku dengan
sebuah kenyataan yang indah.”Ujarku sembari merobek sketsa dan mencoba menatap
masa depan yang baru.