Minggu, 10 Mei 2015

Cerpen cinta segitiga



Matahari Akan Terbit Lagi
 
            Di bawah langit gelap tanpa cahaya bulan dan bintang, Dania duduk di atas tangga di belakang rumahnya. Tak ada cahaya menyinari kecuali sinar ponsel yang tak seberapa. Hujan pun membelai rambut keringnya menjadi basah, namun dia tak beranjak sedikitpun dari sana. Ia malah senang karena hujan telah menyamarkan mata sembabnya setelah lama menangis. Ia menatap foto gadis yang memeluknya di wallpaper ponselnya. Terlihat sebuah kehangatan dari pelukan itu.
            Gaby, sahabat terbaik yang pernah dimilikinya. Suka duka telah dijalin sejak SMP. Gaby selalu ada untuk Dania walaupun ketika berderai airmata dan mendengarkan segala curahan di hatinya. Gaby adalah sinar dalam hidup Dania.
            “Hey, kenapa? Cerita dong! Jangan nangis mulu, nanti cantiknya hilang loh.” terdengar suara menembus sepi. Dania menggeleng sembari memeluk Gaby.
            “Rey, Rey nggak pernah ada waktu buatku. Ayahku sibuk kerja. Nggak enak banget nggak punya saudara Gab.” curahnya. Gaby mengelus punggung Dania. Dania adalah anak semata wayang yang selalu kesepian karena ayahnya selalu sibuk di perusahaan. Tak jarang ia ditinggal ke luar kota untuk urusan kerjaan. Ibunya telah meninggal 3 tahun yang lalu karena kecelakaan. Gabylah yang membuatnya selalu ceria. Walaupun sekarang Dania telah mempunyai kekasih yaitu Rey mewarnai harinya, tetapi warna itu tak lengkap tanpa Gaby.
            “Tenang. Rey kan OSIS. Dia mempunyai tugas lebih dari siswa-siswi biasa seperti kita. Ayah kamu kerja juga untuk kamu. Dan ada aku kok disini. Jangan nangis lagi dong.” hibur Gaby seraya memberikan ice cream cokelat kepada sahabatnya. Dania menerima dengan senang hati. Ice cream itupun dibukanya. Ice cream kesukaannya. Gaby membuka ice cream strawberry favoritnya. Mereka berdua asyik menikmati ice cream. Asyik bukan hanya karena rasanya yang nikmat tetapi kejailan satu sama lain yang menorehkan ice cream di pipi sahabat. Kesedihan Dania berubah menjadi derai tawa. Setelah kedua ice cream itu habis yang menimbulkan 2 wajah yang penuh ice cream, mereka berbalik melangkah menuju rumah Dania yang masih sepi.
            “Thanks ya.” ujar Dania ketika mereka berdua berada di kamar Dania. Malam ini Gaby menginap di rumahnya menemani sepinya Dania. Terkadang memang mereka menghabiskan malam bersama baik di rumah Dania maupun rumah Gaby. Itulah yang membuat mereka tak terpisahkan. Tiba-tiba sebuah ponsel berdering singkat, tanda sms masuk. Gaby segera mengambilnya. Dia nampak fokus sejenak pada ponselnya.
            “Siapa?” tanya Dania.
            “Bukan siapa-siapa. Penipuan.” ujar Gaby sembari menggaruk kepala yang tidak gatal.
            “Oh. Kirain kamu SMSan ama cowok gitu.” goda sahabatnya.
            “Ih, enggaklah.” jawab Gaby seraya menghentikan aktivitas ponselnya.
            “Yah. Pengen deh kita double date. Cuman kamu terlalu betah sendiri. Aku jodohin sama temenku ya.” tawar Dania. Gaby hanya menggeleng sambil menarik selimut.
            ‘Tin. Tin’ klakson mobil di depan rumah membuat Dania dan Gaby berlari menghampiri. Dania duduk disamping pacarnya yang mengemudi sementara Gaby di belakang. Mobil pun melaju. Mobil yang ditumpanginya berhenti di depan sekolah. Sekolah nampak sepi. Seorang satpam terlihat berjaga-jaga disana. Ketiga siswa itu masuk tetapi langkah kaki mereka dihentikan oleh satpam penjaga sekolah.
            “Eit, jangan masuk dulu. Kalian terlambat 5 menit. Silahkan temui Pak Dino.” cegat pak satpam.
            “Tapi Pak, kami harus masuk.” pinta Dania. Pak satpam tetap pada pendiriannya. Mau tak mau mereka harus menemui guru BK mereka yaitu Pak Dino. Pak Dino, sosok guru yang tegas dan disiplin. Jadi apabila siswanya melakukan kesalahan walaupun kecil, siswanya pasti mendapat hukuman. Tak lama menghadap Pak Dino, mereka lari, tetapi bukanlah ke kelas. Mereka lari mengelilingi sekolah sebanyak 5 kali. Rey berlari paling kencang karena selain OSIS, dia juga seorang atlet lari. Sebaliknya untuk Dania dan Gaby, satu putaran saja kaki mereka terasa lemas. Mereka berdua berusaha bertahan lari untuk ke 4 kali. Di tengah perjalanan hukuman terakhir, Gaby berhenti. Nafasnya terdengar ngos-ngosan. Ia terlihat lelah dan haus. Dania pun berhenti. Diam-diam dia mengambil sesuatu dari tasnya. Sebotol air mineral dibukanya dan diberikan kepada sahabatnya. Setelah itu cepat-cepat botol itu ditaruh kembali. Mereka berlari lagi di depan gurunya sembari menyimpan senyum.
            Ketika teriknya matahari pukul 12.30. Dania dan Gaby keluar dari kelas dengan tas dan setumpuk buku yang dibawanya. Guru mereka telah mengakhiri pelajaran. Di depan gerbang Rey telah menunggu di mobilnya. Namun, sebelum sampai gerbang, Dania berhenti. Dia terlihat kebingungan.
            “Ada apa Nia? Panik gitu.” tanya Gaby menatap wajah Dania yang terlihat cemas.
            “Kamu ke mobil duluan ya. Ada buku yang ketinggalan di kelas.” jawab Dania.
            “Ya udah. Jangan lama-lama ya.” pinta Gaby.
            “Sip.” ujar Dania. Kakinya melangkah berbalik ke kelas mencari buku yang tertinggal. Tak lama setelah sampai di kelas, buku itu ditemukan dan masuk ke dalam tas. Ia berjalan kembali menuju gerbang. Tiba-tiba gadis itu mendengar sesuatu yang jatuh di dekatnya. Ia menoleh ke belakang. Dilihatnya sebuah ponsel tergeletak begitu saja. Tipe dan modelnya sangat dikenal. Ponselnya sendiri. Segera si ponsel diambil. Baterai dan penutup belakang yang terpisah dari badan ponsel dipasang lagi. Ponsel itu dihidupkan. Ketika dalam keadaan aktif, sesuatu yang aneh terlihat. Wallpaper fotonya dan Gaby tak tampil, yang ada hanya wallpaper standart merek ponsel itu. Perasaannya mulai tak enak. Pertanda apa ini? Sambil jalan setengah berlari, Dania memasukkan ponsel ke saku bajunya. Ia berharap tak akan terjadi sesuatu yang menakutkan pada sahabatnya.
            Di depan gerbang, ia tak melihat sahabatnya di kursi belakang mobil Rey. Ia mulai panik. Ingin semua itu ditanyakan pada pacarnya. Tetapi nampaknya ada orang lain yang duduk disamping Rey. Ia semakin mendekat. Sebuah ciuman dari sang kekasih mendarat ke bibir si tamu dimobil. Tamu itu…
            “Gaby, Rey apa-apaan ini?” tanya Dania. Jantungnya hampir tak berdetak seketika.
            “Eh kamu Dania. Sorry aku.. aku sayang sama pacar kamu. Jangan tegang gitulah.” ucapnya santai seakan tak tahu bagaimana perasaan Dania saat itu. Air matanya meluncur disebabkan oleh 2 orang yang membuat hatinya begitu remuk dan hancur.
            “Kamu tega ya Gab. Aku ini sahabatmu. Selama 5 tahun kita bersahabat, ini balasanmu padaku. Kamu juga Rey, aku selalu setia untukmu. Tapi kamu.. Jangan-jangan kamu nggak ada waktu untukku karena Gaby. Dan kamu Gab, SMS yang kemarin-kemarin itu dari Rey kan?” tebak Dania dengan mencoba menepis air yang jatuh ke pipi.
            “Yah benar. Sorry Nia aku benar-benar cinta Rey. Rey juga begitu padaku. Aku tak peduli sainganku sahabatku sendiri. Ini pilihanku Nia.” kata-kata yang berurai dari bibir Gaby serasa menusuk ulu hati. Kakinya lemas. Tanpa sadar ia berlutut sementara mobil itu pergi begitu saja dengan meninggalkan luka yang serius di hati Dania.
            Dania mematikan ponselnya setelah mengingat momen kelam siang tadi. Tak bisa terbersit di pikiran sebelumnya seseorang yang selalu menghibur sedihnya, kini dialah yang menabur duka di hatinya. Ia menatap langit gelap lagi. Ia tak peduli badannya yang telah basah kuyup bermandikan hujan. Kepercayaannya telah dihancurkan. Bahkan dia tak sanggup melangkah lagi.
            “Dania, ternyata kamu disitu. Turun dong.” ujar Oscar, sepupunya, dengan sebuah senter kecil dan payung ditangannya. Dania mematung tak menjawab.
            “Aku tahu kamu patah hati. Aku melihat Gaby dan Rey bergandengan mesra di taman sebelum aku menuju kesini.”
            “Cukup Os. Kalau kamu datang hanya untuk manas-manasin aku. Lebih baik kamu pergi. Pergi Oscar!” teriak Dania dengan emosi yang tak bisa ditutupi lagi. Oscar menaruh payung di tanah, kemudian Oscar menaiki tangga, menggendong Dania sekaligus membawanya turun dari tangga walaupun gadis itu berteriak minta dilepaskan.
            “Oscar tinggalin aku sendiri.” pinta Dania lagi.
            “Untuk apa Nia? Sampai kapan kamu bergelap-gelapan dan hujan-hujanan disini? Ayahmu, orangtuaku, adikku, dan aku khawatir padamu yang menghilang dari siang. Ayo temui ayahmu.” ajak Oscar seraya memayungi sepupunya.
            “Nggak. Hidupku sudah hancur Oscar. Perih banget, bahkan bulan dan bintang tak bersinar. Matahari sudah terbenam. Tak ada cahaya di hariku lagi.”
            “Kamu salah Nia. Hidupmu tak hancur. Tidak berakhir gara-gara mereka berdua. Kau masih bisa bernafas. Banyak yang masih menyayangimu.” ujar Oscar seraya mengambil nafas.
            “Malam ini memang telah gelap. Bukan berarti akhir dari segalanya. Esok matahari akan terbit lagi. Harimu jauh lebih indah dari ini. Ayo.” lanjut Oscar sambil meraih tangan Dania dan menuntunnya ke dalam rumah.